Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

MEMOAR KALA ITU

Di kursi roda ini, aku duduk menghadap halaman rumah yang cukup lapang. Terdapat gazebo kecil yang cukup untuk bersantai saat senja hadir di depan rumahku. Pemandangan ini selalu saja mengingatkanku akan historis semua tentangmu, istriku. 

Masih teringat jelas semua kenangan tentangmu, Suparwi. Kala kita bertemu untuk pertama kalinya. Waktu itu, tahun 1967. Aku melihat segerombolan gadis muda memasuki area pasar malam. Pardi, kawan baikku mulai bergelagat ingin berkenalan dengan salah satu gadis yang ia incar. Tapi aku tak tertarik sedikit pun. Aku lebih memilih menyantap tahu petis yang baru saja kubeli. 

Benar saja sesuai dugaanku, Pardi berhasil berkenalan dengan Sarita. Sedangkan para gadis lain mulai berpencar untuk melihat-lihat pasar malam yang hanya hadir satu tahun sekali di kota ini saat bulan Ramadan. Namun, aku melihat satu gadis yang menarik hatiku. Kuberanikan diri untuk mendekatinya. Ya, namanya Suparwi. 

Dialah gadis lemah lembut, dan manis senumnya. Rambutnya yang berkepang dua dengan pita merah di ujungnya, menambah apik paras wajah bulatnya. Mengenakan sweater rajut coklat dan rok hitam selutut. Sungguh sedap dipandang. Tak akan pernah kulupakan kesan pertamaku bertemu dengannya. Tiap kenangan manis tentangnya, tiap ucapan lemah lembutnya, tiap sedapnya masakan yang tercipta dari tangan ajaibnya, mana mungkin bisa aku lupakan. 

Setelah mengenal lebih dalam tentangnya, singkatnya, aku menikah dengannya. Kami dikaruniai 5 orang anak. Ibu, panggilannya dari anak-anak kami. Hari-hari terasa cepat berlalu. Tangis, tawa, cerita bahagia, sedih, susah, senang kita lalui bersama-sama selama 27 tahun ini. Tapi tak jarang pula aku melakukan kesalahan dan dia selalu saja memaafkanku. Kenapa ada orang yang sesabar kau, Suparwi? 

Hari itu, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya. Dia terjatuh lunglai. Kugendong ia dalam pelukanku. Mencoba menyadarkannya dan mengguncangkan badannya, apa saja kulakukan demi membuatnya bangun kala itu. Anak kami Wawan yang kutelepon, langsung datang dan membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang ini adalah gerd akut. Tapi kenapa aku tidak pernah mengetahuinya? Bahkan, tentang sakitnya pun aku lalai, padahal sudah puluhan tahun aku bersamanya. Ah Suparwi, sungguh maafkan suamimu yang tak becus untuk mengurusmu. Aku benar-benar sangat menyesal kala itu. Egoku selama ini yang terlalu tinggi sungguh aku menyesalinya.

Satu minggu setelahnya, Suparwi meninggalkanku untuk selamanya. Kini di usia senja ini, kuhabiskan dengan mengenang perjalanan kita sembari mempersiapkan bekalku untuk bertemu denganmu di akhirat nanti. Semoga pertemuan kita nanti, menjadi pertemuan terakhir yang selamanya.


Rabu, 12 Juni 2024

Kita yang Tak Sama

Richie memandangi wajah Vela lekat-lekat. Gadis berambut panjang yang memiliki mata bulan dan kulit sawo matang itu menjadi salah tingkah karenanya. Seketika Richie berkata,
"Jadi, besok sudah mulai puasa ya kamu?"
"Iya nih. Nanti malam aku mau ikut tarawih di masjid dekat rumah. Jadi, rencana cari bukunya ditunda dulu ya?"
Richie tidak menjawab.
"Gak apa-apa kan?"
"Eh, iya. Gak apa-apa kok. Kamu fokus ibadah aja dulu."
Sejenak, mereka terdiam di bangku taman kota yang tidak jauh dengan kampus Vela. Raut wajah Richie yang menunjukkan kekecewaan seketika berubah menjadi kegirangan seperti mendapatkan ide bagus.
"Ah, aku tahu. Bagaimana kalau rencana mencari bukunya diganti besok sore saja? Setelah itu biar lanjut cari buka puasa untuk kamu."
"Boleh. Oke besok ya."
Keduanya sudah berada disana sekitar satu jam. Kini mulai bersiap untuk pulang. Richie menyalakan motor tua kesayangannya, membonceng Vela yang ingin cepat pulang karena hari sudah sore.

Sesampainya di depan rumah Vela, Richie tak langsung pamit pulang.
"Vel, kamu tau gak kenapa aku bisa tertarik sama kamu padahal kita berbeda?"
Vela tak langsung menjawab, dia berdiam diri sejenak tertegun, tertunduk, lalu kembali melihat sosok lelaki berkulit putih, bermata sipit, dan rambut kecoklatan di bawah sinar matahari senja.
Entah apa yang dipikirkan Vela, tapi ia hanya menggelengkan kepala. Tanda tak tahu.
Belum sempat Richie berbicara, terdengar teriakan dari dalam rumah Vela. "Vela, cepat masuk. Sudah mau magrib."
Vela pun bergegas masuk ke dalam rumah seraya berkata, "Eh besok ya. Dah."
Richie mematung. Kemudian dengan muka lesu dia tancap gas menjauhi rumah Vela.

Banyak perbedaan diantara mereka, namun tidak menjadi halangan bagi mereka untuk saling bertoleransi satu sama lain. Perihal beda keyakinan adalah yang paling mencolok di keduanya.
Waktu terus berlalu, semakin lama menjadikan mereka semakin akrab dan dekat. Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan bagi Vela. Suatu pagi yang menjadi malam terakhir di bulan Ramadan, Vela memberanikan diri untuk bertanya pada Richie.
"Kita sudah sejauh ini. Nanti akan tiba saatnya kita mempertanyakan, apakah salah satu dari kita akan rela memindahkan keyakinannya kepada Tuhannya, demi cintanya kepada manusia?"
Richie hanya terdiam. Seketika muncul banyak pertanyaan yang memberondong kepalanya. Seolah berpikir jauh dan belum terjawab pula sampai saat ini..


Aku dan Cinta Pertamaku

Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentangnya. Tapi memori singkat itu akan selalu membekas dalam benakku. Tangis, tawa, marah, canda yang selalu terngiang di dalam pikiranku. Sampai kapan pun tidak akan pernah kulupakan dan aku tidak ingin lupa. Suaranya tak pernah meninggi, tawanya selalu menular. Tiga belas tahun kami hidup bersama dan tak pernah aku merasa tidak diinginkan. Pelukannya selalu hangat. Aku tidak pernah tau apa yang dirasakannya diluar sana, yang aku tahu dia sangat baik dan mempesona. Kami selalu terlihat mesra dengan aku yang selalu manja kepadanya.
Pagi itu sangat gaduh. Terdengar teriakan kencang dari mama.
“Haaaaa. Pergi sana. Pergiiii!” Teriak mama.
Aku dengan mataku yang setengah mengantuk mencoba memahami keadaan yang sedang terjadi di rumah. Saat itu aku tidak hanya tinggal dengan mama, papa, dan adik tetapi juga ada yangkung dan yangti. Disebelah rumah, hanya berbeda 4 rumah, ada rumah bude Emi, kakak kandung mamaku. Pagi itu semua orang berkumpul di kamar mama papa, terlihat bude Emi, yangkung dan yangti memegangi kedua tangan mamaku, menahannya untuk tidak melemparkan semua benda yang ada didekatnya. Setelah melihat aku keluar dari kamarku dan melihat kejadian itu, bude Emi dengan cepat langsung menggandeng tanganku dan menggendong adikku untuk diajak kerumahnya. Banyak pertanyaan yang ada dalam benakku. Kenapa mama? Apa yang terjadi dengan mama dan papa sehingga aku melihat papa yang mematung dan mama yang teriak bak orang kerasukan?
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku baru tahu bahwa ini adalah awal dari perpisahan kami, perpisahanku dengan papa. Ya, mama memutuskan untuk bercerai dengan papa. Tapi yang aku pahami saat itu adalah aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan papa, laki-laki pertamaku, cinta pertamaku. Hatiku sangat sedih dan perih sekali saat mengingat dan memikirkan hal itu. Saat itu aku masih berusia tiga belas tahun. Hal yang aku butuhkan sepenuhnya adalah papa dan mama yang harusnya terus bersama, menemaniku sampai aku dewasa dan memiliki anak yang juga berarti itu adalah cucu mereka. Aku sempat jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena gejala tifus. Aku berharap bisa bertemu papa dan kami menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi itu hanyalah anganku karena mama tidak membiarkan papa berlama-lama menjengukku. Kami hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam dan itu pun diawasi ketat oleh mama seakan-akan aku dalam kondisi yang berbahaya jika bersama papa.
“Mbak yang kuat ya, kalau ada apa-apa bilang Papa ya.” dengan suara setengah berbisik, papa mengucapkan kata-kata yang seketika membuat aku tidak bisa berkata apa-apa. Padahal yang sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benakku. Apa aku masih bisa bertemu papa? Apakah papa akan sering-sering mengunjungiku? Tidak bisakah mama dan papa bersatu kembali? Sehingga kami tidak akan pernah dipisahkan secepat ini? Aku butuh papa, jangan pergi pa!
Namun itulah aku, yang sampai saat ini selalu dalam keadaan sulit untuk mengutarakan perasaanku dan takut untuk menyampaikan hal yang membuatku tidak nyaman. Pun saat aku akhirnya bertemu kembali dengan papa setelah dua belas tahun lamanya kami tidak saling kontak. Kami bertemu lagi pada akhirnya di KUA. Ya, aku akan menikah dan pencarianku untuk membawa papa hadir ke pernikahanku sampai pada titik ini. Kami berdua mematung selama beberapa detik sampai akhirnya saling menyapa.
“Mbak apa kabar? Sehat? Gimana kabarnya adik?” papa gugup.
“Alhamdulillah baik Pa.” hanya kalimat itu yang bisa aku ungkapkan. Padahal banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin aku sampaikan ke papa. Tapi kami hanya bisa gugup dan bergerak sesuai arahan petugas KUA saat itu.
“Mbak maaf ya Papa tidak bisa datang ke acaramu. Kamu jaga diri baik-baik ya.”
Aku hanya mampu menganggukkan kepala.
“Mas, titip Sera ya. Dia putriku, kekasih hatiku, rejeki pertamaku, penyemangatku. Jaga dia seperti saat aku menjaganya dulu ya.” suara papa mulai bergetar.
“Iya Om.”
Aku menangis. Sungguh rasanya sangat rindu ingin memeluk. Mengatakan bahwa aku selama ini merindukannya, membutuhkannya, berharap bisa berkumpul untuk sekedar makan bersama. Tapi aku hanya mematung disitu dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Itulah terakhir kalinya kami bertemu. Aku sangat menyesal sekali kenapa kami tidak menghabiskan waktu bersama saat itu. Banyak bercerita tentang pahit manis kehidupan yang aku lalui tanpanya. Kini aku kehilangan papa untuk selamanya. Tapi kenangan kami yang singkat akan selalu membekas di benakku.
Perasaan terbaik adalah perasaan yang diungkapkan dan dikomunikasikan.

Dari Limbah Jadi Mainan Anak: Solusi Edukasi dan Lingkungan dalam Satu Sentuhan

     Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur adalah salah satu penghasil mebel terbesar di Jawa Timur. Tidak kalah dengan kota Jepara, mebel di Kot...