Tampilkan postingan dengan label Self Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2024

Stop! Jangan Teruskan Hubungan Seperti Ini!

Ada yang pernah bilang.
"Kamu akan benar-benar merasa sayang, saat kamu telah kehilangan." 
Ya, memang benar adanya. Tapi memang hal itulah yang harus kamu lakukan saat ada seorang laki-laki yang menyakitimu atau menyia-nyiakanmu. Kamu harus berani walk away. Keluar dari sana, dari hubungan itu. Kamu akan terus berputar pada masalah itu jika kamu tetap berada di posisimu.

Namun ketika kamu walk away, laki-laki akan mulai berpikir kamu adalah wanita yang "the only one" dia pasti akan sangat menyesal telah memperlakukanmu seperti itu, sehingga dia pasti akan kembali padamu, memohon untuk kembali kepadamu.

Eits tapi tunggu dulu. Jangan langsung terima cintanya kembali kalau belum kamu perhatikan hal-hal ini :

1. Kesalahan dia sepele.
Mungkin laki-laki memang sering membuat kesalahan dan akhirnya membuatmu merasa jengkel dan marah. Seperti dia sering terlambat pada acara tertentu, dia hanya sibuk bermain game, dia kurang giat bekerja, atau pun kamu kesal karena dia tidak peka dan menggantungmu berlama-lama. Hal ini sebetulnya masih dalam tahap kasus hubungan yang bisa dibicarakan dan dikomunikasikan. Tapi kalau dia masih tetap saja, mending kalian walk away dan biarkan mereka berpikir dulu apa yang harusnya mereka lakukan terhadap kalian. Dan jika laki-laki sudah menyadari kesalahannya, dia akan menghubungimu kembali dan memohon agar hubungan kalian diperbaiki. Boleh kalian terima lagi apabila sudah ada kesepakatan tentang tidak mengulangi kesalahan yang lalu dan kalian juga harus jual mahal. Tetap fokus pada diri kalian untuk meningkatkan value kalian. Jangan habiskan fokusmu pada masalah dengan laki-laki saja.

2. Dia kasar dan redflag. Jika kamu menemukan laki-laki yang kasar, sering mengumpat, dan terlihat tidak sabaran, nope! Jangan kamu sekali-kali kembali pada dia. Sudah betul kamu walk away dan biarkan dia menyesali perbuatannya ke kamu seumur hidup. Bikin dia tidak bisa melupakanmu tapi beri dia pelajaran juga untuk tidak kembali padanya. Semoga di sini tidak ada laki-laki yang memperlakukan kalian seperti itu. Kalian para wanita harus tetap menjaga kewarasan dengan tidak berurusan lagi sama laki-laki redflag. Berani keluar dari zonamu. Fokus dengan hal-hal baik di depanmu. Fokus dengan pekerjaanmu, pencapaian yang akan kamu lakukan, dan goals-goals yang kamu cita-citakan.

3. Selingkuh tidak termaafkan.
Ya benar. Apa bila kamu menjumpai laki-laki yang selingkuh darimu. Segera tinggalkan! Jangan berpikir lebih lama dan kamu harus cepat-cepat pergi darinya. Komitmen yang baik adalah yang tidak mendua, apalagi tiga. Tidak ada alasan untuk kesalahan yang memang disengaja ini. Aku tidak bilang kalau selingkuh itu tidak bisa berubah, namun hal ini bisa merusak mentalmu secara perlahan, melemahkan fisikmu secara tidak sadar dan perlahan kamu akan kehilangan kepercayaan dirimu. So, jangan sampai itu terjadi kepadamu. Hargai dirimu, otakmu, tubuhmu, beri dirimu kebahagiaan yang tidak melulu bersumber dari pasangan. Cari kebahagiaan lain untuk meningkatkan value mu sendiri.

Minggu, 09 Juni 2024

Menulis, Apa Salahnya?

Sering kalian bertanya pada anak kecil tentang apa cita-cita mereka? Mereka akan menjawab dengan penuh semangat ingin jadi dokter, polisi, pilot, pemadam kebakaran, guru, dan profesi berseragam lainnya. Pun terjadi denganku saat duduk di bangku SD, aku akan sering mendengar pertanyaan, "Cita-citamu apa?" Bahkan jaman itu setiap anak di kelasku akan bertukar biodata yang berisi nama, alamat, hobi, makanan favorit, minuman favorit, dan tentu saja cita-cita. Binder dan adinata kalau di tempatku namanya, di tempat kalian apa? Boleh komen dong.
Waktu itu usiaku hampir 12 tahun, saat tren bertukar binder dan adinata terjadi. Aku dengan lancar dan percaya dirinya mengisi daftar biodata yang teman-temanku kirimkan. Tapi saat melihat tulisan "cita-cita" aku sempat berhenti agak lama. Cita-citaku? Apa ya? Aku ingin jadi apa kalau sudah besar? Polisi? Ah tidak, aku tidak suka warna seragamnya pikirku dulu. Pilot? Ah tidak, aku tidak suka ketinggian. Lalu aku terbesit pikiran. Aku ingin menciptakan sebuah buku yang akan asyik untuk dibaca teman-teman. Saat itu, sedang tren baca novel serial "Harry Potter" dan aku membacanya sampai 7 jilid. Aku ingin sekali bisa menciptakan buku-buku tebal setebal bikinan J.K Rowling pada saat itu. 
Akhirnya kutulislah cita-citaku "pembuat buku."

Lama dan menjadi kebiasaan pada akhirnya, aku suka sekali menulis di buku diary. Diary yang kupunya saat itu berwarna merah jambu, lengkap dengan gembok kecil di ujung penutupnya. Berharap tidak ada yang bisa baca tulisanku waktu itu. Malu rasanya jika tulisanku terbaca oleh orang lain termasuk ibuku sendiri. Saat itu, yang kutulis hanyalah curhatan sehari-hari anak SD yang sedang tumbuh remaja. 
Lambat laun, aku sadar jika aku suka menulis. Aku suka berlarut tenggelam dalam buku dan tulisanku sendiri. Membaca ulangnya pun membuatku bersemangat.

Sampai aku beranjak SMA, aku pun masuk dalam jurusan Bahasa dan Sastra. Pertanyaan terbesar dalam diriku bertahun-tahun lamanya sebelum aku memutuskan untuk masuk jurusan tersebut, aku bertanya pada diriku sendiri kenapa aku masuk kelas bahasa? Aku jawab, ya karena ingin menulis dengan baik, lalu, "Kenapa kamu ingin jadi penulis?"
Kini aku tahu semua jawabannya.

Aku adalah seorang introvert yang hanya akan pandai bertukar pesan teks tanpa ada panggilan telepon. Aku seseorang yang lebih memilih bercerita lewat tulisan dari pada lewat lisan. Aku tahu ini bukan hal yang begitu baik, tapi aku tahu kapasitasku. Aku hanya akan nyaman dengan tulisan saat aku benar-benar tak nyaman di dunia ini.

Mungkin untuk kedepannya, aku akan lebih melatih diriku untuk membuat lebih bagus lagi tulisan apapun yang aku buat. Menjadikannya bermanfaat bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain. Semoga juga aku lebih berani berkomunikasi dengan percaya diri dari tulisanku menjadi lisan yang akan bermanfaat untuk orang lain.
Salah satu manifestasiku adalah "Jadi Penulis dan Narasumber" nantinya.

Aamiin gak?

Jumat, 07 Juni 2024

Begini Cara Semesta Mewujudkan Pikiranmu


"Ah aku sial sekali."
"Bawaanku dari dulu memang begini-begini aja."
"Aduh, kepala ini kenapa setiap malam selalu kambuh sakitnya."
"Memang bener kata pepatah, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin."

STOP!

Kalau kamu pernah berpikir seperti itu, sebaiknya hentikan mulai sekarang!
Energi pikiran yang kamu fokuskan akan tertanam pada alam bawah sadarmu dan menjadi realita pada akhirnya.
Otak manusia diciptakan luar biasa hebatnya menerima segala informasi dan menyimpan informasi tersebut. Apabila otak kita beri makanan positif (dalam hal pikiran positif), dia akan menyalurkan energi positif ke seluruh tubuh kita dan akan mengubahnya menjadi dorongan energi positif pula, sehingga kita juga akan menarik energi-energi positif ke dalam hidup kita.
Sebaliknya, jika otak diisi dengan pikiran negatif, maka kita juga akan menarik hal-hal negatif ke dalam hidup kita.

Konsep Manifestasi
Manifestasi adalah salah satu kunci untuk mewujudkan semua keinginan kita menjadi kenyataan dengan cara Law of Attraction (LOA), termasuk saat kita berpikir negatif maka otak akan mengirimkan sinyal kepada kita untuk segera mewujudkannya, dan saat kita berpikir positif semua impianmu pun terwujud.
"Aku pernah manifestasi, tapi kenapa tidak terwujud?", "Kapan terwujudnya?".
Jika kamu pernah berpikir seperti ini, maka manifestasimu akan benar-benar tidak terwujud karena manifestasi atau do'a yang kita lepaskan ke langit biarkan dan pasrahkan semuany, biarkan alam semesta bekerja. Jadi percayalah 100% kepada Tuhan dan alam semesta untuk mewujudkan mimpimu. Kamu hanya perlu berpikir positif dan positif.

Lakukan hal ini, maka manifestasimu terwujud :

1. Scripting
Lakukan scripting atau menuliskan hal-hal yang kamu inginkan seakan-akan itu sudah terjadi. Contoh : "Terima Kasih Tuhan, akhirnya omset jualanku setiap hari semakin naik. 1.000pcs terjual tiap harinya."
Tuliskan juga hal-hal positif lainnya setiap hari di buku jurnal kamu. Setiap hari! Isinya berbeda-beda tidak apa-apa yang penting hanya hal positif yang ingin kamu wujudkan saja. Jangan menuliskan hal yang kamu eluhkan karena berpotenti mewujudkannya pula. 

2. Meditasi. 

Meditasi bukanlah hal yang mengarah ke "klenik" atau hal mistis yang ada dipikiranmu. Meditasi yang aku maksud adalah merilekskan pikiran dan memusatkannya pada hal-hal positif. Belajar memaafkan, belajar berterima kasih karena apa pun yang ada di dunia ini sangatlah berhubungan erat. Mungkin saja hari ini kamu kurang beruntung karena terlambat masuk kantor gara-gara ban bocor, tapi ternyata dibalik itu semua kamu dihindarkan dari kejadian tidak menyenangkan di jalan seperti kecelakaan atau semacamnya, masih lebih baik ban bocor bukan? Everything is connected dan kamu harus mempercayainya 100%.

3. Hilangkan Iri dan Dengki
Jika kamu masih mempunyai sifat iri dan dengki, jangan harap kamu bisa mewujudkan impianmu karena sifat iri dan dengki membuatmu sering mengumpat dan menjelekkan orang yang kamu tuju. Hal ini secara tidak langsung sama dengan mengutuk dirimu sendiri, menjelekkanmu sendiri dan membawa semua hal negatif itu ke dalam hidupmu.

Senin, 03 Juni 2024

Stoikisme, Tidak Serta-merta Membuat Kita Nampak "Bodo Amat"

Cuaca hari ini benar-benar buruk, hujan turun dengan angin besar dan petir menggelegar yang membuat rencana bepergianmu batal; kamu hendak mengumpat menganjingbabikan semesta, tetapi kamu tidak jadi melakukannya. Alih-alih, kamu hanya diam, menyeduh secangkir teh hangat dan mengambil sepiring cookies, mengambil buku favoritmu, mengambil selimut, kemudian duduk di sofa dan menikmati hari untuk menggantikan perjalananmu yang batal dan berpikir bahwa selalu ada hari esok untuk itu.

Tetapi, kemudian, kamu mendengar suara tetesan air yang terdengar keras di belakangmu. Kamu terkejut saat menemukan atapmu berlubang yang menciptakan celah untuk air masuk ke dalam ruangan, dan itu tepat di atas meja komputermu. Kamu mencari sesuatu untuk menampungnya, sembari berpikir, "Bagaimana jika aku pergi sebelum hujan, itu mestilah sangat buruk, air akan mengenai komputerku dan membuatnya rusak, aku bersyukur tidak melakukannya."

Setelah selesai, kamu kembali ke sofamu dan melanjutkan bacaanmu. Dan, ketika selesai, kamu tertidur dengan perasaan tenang.

Kamu terbangun ketika hujan sudah selesai, hari sudah gelap. Kamu membersihkan wadah tampungan air dan segera berpikir untuk memanggil tukang untuk memperbaikinya besok.

Kamu membuka ponsel, menyalakan jaringan, dan kamu langsung disambut dengan pesan beruntun dari temanmu yang memberikan tautan tentang orang asing yang menghina negaramu. Kamu membukanya, dan seketika merasa kesal, karenanya, kamu menulis kalimat panjang untuk menghina kembali sebagai balasan di laman komentar. Tetapi, ketika kamu hendak menekan tombol kirim, kamu teringat untuk apa kamu membuka ponsel.

Kamu menghapusnya, keluar dari tautan tanpa meninggalkan jejak apa-apa, kemudian segera mengirimkan pesan kepada tukang memintanya untuk datang dan memperbaiki atap bocor di ruanganmu.

Itu bagus, pikirmu, kamu tidak akan menorehkan satu lagi jejak buruk digital yang akan kamu sesali di kemudian hari.

Kamu kemudian mandi dan berniat untuk membuat makan malam, menyadari bahwa kamu kekurangan bahan makanan karena sebelumnya kamu berniat untuk bepergian. Kamu segera bergegas untuk pergi ke swalayan, membeli beberapa sayuran dan makanan instan, kemudian pergi menuju antrian.

Sayang sekali, ketika hendak melakukannya, kamu bertabrakan dengan seseorang yang membawa minuman, minumannya tumpah dan mengenai dirimu. Orang itu mengumpat, mengatakan maaf dengan cepat dan bergegas meninggalkanmu menuju pintu keluar.

Kamu ingin mengumpat, tetapi orang itu sudah pergi dan ada beberapa anak di sekitarmu, mereka bisa mendengar dan menirumu. Kamu tidak jadi melakukannya.

Ketika kamu keluar dari swalayan, kamu menemukan orang itu berdiri di samping pintu keluar. Dia menyodorkanmu segelas minuman hangat dan mengatakan bahwa ia sedang terburu-buru. Kali ini ia meminta maaf dengan benar.

Kamu tersenyum dan mengatakan itu bukan masalah, bersyukur tidak jadi mengumpat saat berada di dalam.

Kamu pulang, membersihkan diri lagi, memasak makan malammu, makan dengan tenang, mendengarkan lagu kesukaanmu, membaca lagi, dan bergegas menuju ranjang dan berharap dapat tidur dua jam sebelum tengah malam.

Hari ini banyak kesialan, pikirmu. Kamu segera membuka ponselmu dan berniat untuk menjadikannya sebagai bahan cerita untuk dibagikan kepada para pengikutmu. Tetapi, kemudian, kamu berpikir; jika kamu melakukannya, maka ada kemungkinan seseorang akan membalasnya, dan kamu harus membalasnya pula, dan kalian akan saling berbalas-balasan sehingga kamu akan lupa waktu. Tidurmu akan terlambat yang akan membuatmu bangun terlambat pula. Badanmu akan sakit.

Kamu tidak jadi melakukannya. Kamu lantas menutup ponsel dan mulai mencari posisi nyaman untuk tidur.

Berharap besok kamu akan tetap bisa mengendalikan dirimu untuk tidak melakukan hal yang akan membuatmu menyesal di esok hari.

Saya yakin kamu sering menemukan esai atau cerita yang mirip dengan fragmen di atas ketika berbicara tentang stoik. Itu adalah catatan lama saya, omong-omong, saya buat dengan pertanyaan awal yang kurang lebih meminta saya untuk menuliskan "kemustahilan di dunia nyata."

Wqwqwq.

Saya baru beberapa bulan ini menemukan stoikisme omong-omong, dan seketika jatuh cinta padanya sampai pada titik di mana gelar kaisar Romawi favorit saya sekonyong-konyong langsung bergeser dari Augustus menuju Marcus Aurelius :D

Aliran ini benar-benar tampak sempurna di mata saya. Term-term seperti dikotomi kendali, aproptosia, anelenxia, aneikaiotes, amataiotes, view from above, premeditatio malorum, amor fati, dan prinsip-prinsip dasar stoa lainnya benar-benar meracuni otak saya.

Apa yang tidak saya pahami adalah fakta bahwa saya bukan orang yang cerdas. Saya tidak mampu menafsirkan segala hal dengan benar. Termasuk stoikisme ini.

Dikotomi kendali, misalnya. Alih-alih memaknainya sebagai sebuah cara pandang untuk mengendalikan diri sendiri, saya malah memaknainya sebagai cara lain untuk bersikap apatis dan ignoran terhadap segala hal.

Saya juga menulis daftar untuk memastikan dikotomi kendali saya tetap berjalan dengan baik, omong-omong, ini dia:

Hal-hal yang bisa kamu kendalikan:

1. Pikiranmu

2. Tindakanmu

3. Perkataanmu

4. Caramu mengungkapkan pendapatmu

5. Caramu mengelola barang milikmu

6. Caramu menyayangi dirimu

7. Batasanmu

Hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan:

1. Perkataan orang lain

2. Perasaan orang lain

3. Apa yang orang lain pikirkan

4. Apa yang orang lain katakan

5. Waktu, cuaca, suhu, kondisi alam di suatu tempat

6. Hal-hal yang telah terjadi

Dengan berpatokan pada daftar ini, bukannya menjadi manusia tenang, saya malah nampak seperti manusia yang terlalu bodo amatan. Saya tidak peduli pada kematian orang lain, saya tidak bisa berempati pada perasaan orang lain, saya bahkan menganggap semua pendapat orang lain tidak penting.

Stoikisme tiba-tiba berubah menjadi solipsisme. Saya seketika berubah menjadi manusia paling bajingan di seantero alam semesta. Analoginya.

Efek jangka panjang dari ignoran berkedok dikotomi kendali ini sendiri jauh lebih mengerikan.

Saya kolaps.

Semua emosi yang selama bertahun-tahun saya pendam atas nama pengendalian diri, segala kenegatifan yang saya telan diam-diam tanpa sedikitpun memiliki jalur pengeluaran, setiap masalah yang saya abaikan karena merasa itu bukan masalah; pada akhirnya meledak.

Saya marah tanpa bisa saya kendalikan, ada chaos dalam diri yang tak bisa saya netralkan. Ironis sekali, daftar pertama pada hal yang harus saya kendalikan justru menjadi hal yang mulai mengendalikan saya.

Meskipun kejadian pada diri saya adalah kesalahan saya sendiri atas penafsiran yang tidak tepat, tetapi pada akhirnya saya menemukan satu kekurangan stoikisme; dia tidak tercipta untuk saya.

Stoikisme memang tidak memiliki kekurangan dalam ide-idenya. Dia sempurna, tanpa cela. Namun, terlalu sempurna untuk manusia yang tidak akan bisa sempurna.

Kita melupakan bahwa manusia penuh luka, bisa mengalami trauma, dan tidak semuanya memiliki isi kepala.

Stoikisme tidak bisa diterapkan secara universal, sebab ia mengabaikan hakikat dasar manusia sebagai makhluk yang memiliki kepekaan rasa (homo recent), yang kadang-kadang, kepekaan rasa ini bertindak lebih cepat sebelum otak memikirkan apa-apa.

Manusia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan dunia di luar dirinya, sebab di sanalah mereka hidup. Kita terbentuk dari hubungan antar diri dan objek internal, that's what makes us us.

Meskipun para stoik berdalih bahwa stoikisme tidak sepenuhnya menolak adanya emosi, tetapi mereka cenderung menyebut mengekspresikan emosi adalah tindakan bodoh dan menyakiti diri sendiri. Utamanya adalah marah.

Welp, it does.

Akan tetapi, apakah semua orang bisa untuk tetap tidak marah? Apakah marah memang selalu berakibat negatif? Bagaimana jika kemarahan bisa memberi efek jera yang menyadarkan orang yang kita marahi bahwa ia telah berbuat kesalahan dan mau berubah menjadi lebih baik?

Artinya, relasi antar manusia-emosinya-subjek lain itu terlalu kompleks. Adalah tindakan ceroboh jika mengasumsikan suatu tindakan hanya bisa berakhir pada satu kondisi.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan kepada para stoik: manusia tidak hanya terpusat pada isi kepala. Kita punya hormon, alam bawah sadar, dan perasaan yang kadang-kadang mempengaruhi tindakan kita.

Manusia pada cerita pertama mungkin saja ada, tetapi saya yakin jumlahnya tidak lebih banyak dari jumlah semua kue coklat yang pernah dibuat di seluruh dunia.

Jadi, tolonglah, jadi sedikit lebih realistis:)

Kesimpulannya, apa kekurangan stoikisme?

Hanya ada dua yang utama. Pertama, cenderung disalahtafsirkan. Apalagi hanya dibaca sepotong-sepotong dari kutipan para stoik di internet. Kedua, tidak praktis. Sulit sekali diterapkan.

Tidak semua orang bisa lepas dari PTSD, tidak semua orang bisa lepas dari perasaan-perasaannya.

Hanya orang yang mengisolasi dirilah yang sepenuhnya tidak terpengaruh dari dunia luarnya.

Terakhir, memeeeeeee. Bagaimana mungkin kita bisa melupakan ini😔👊

Stigma:

 

Realita:

 

Welp, itu saja.

Terima kasih sudah membaca🌼

Dari Limbah Jadi Mainan Anak: Solusi Edukasi dan Lingkungan dalam Satu Sentuhan

     Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur adalah salah satu penghasil mebel terbesar di Jawa Timur. Tidak kalah dengan kota Jepara, mebel di Kot...