Minggu, 09 Juni 2024

Menulis, Apa Salahnya?

Sering kalian bertanya pada anak kecil tentang apa cita-cita mereka? Mereka akan menjawab dengan penuh semangat ingin jadi dokter, polisi, pilot, pemadam kebakaran, guru, dan profesi berseragam lainnya. Pun terjadi denganku saat duduk di bangku SD, aku akan sering mendengar pertanyaan, "Cita-citamu apa?" Bahkan jaman itu setiap anak di kelasku akan bertukar biodata yang berisi nama, alamat, hobi, makanan favorit, minuman favorit, dan tentu saja cita-cita. Binder dan adinata kalau di tempatku namanya, di tempat kalian apa? Boleh komen dong.
Waktu itu usiaku hampir 12 tahun, saat tren bertukar binder dan adinata terjadi. Aku dengan lancar dan percaya dirinya mengisi daftar biodata yang teman-temanku kirimkan. Tapi saat melihat tulisan "cita-cita" aku sempat berhenti agak lama. Cita-citaku? Apa ya? Aku ingin jadi apa kalau sudah besar? Polisi? Ah tidak, aku tidak suka warna seragamnya pikirku dulu. Pilot? Ah tidak, aku tidak suka ketinggian. Lalu aku terbesit pikiran. Aku ingin menciptakan sebuah buku yang akan asyik untuk dibaca teman-teman. Saat itu, sedang tren baca novel serial "Harry Potter" dan aku membacanya sampai 7 jilid. Aku ingin sekali bisa menciptakan buku-buku tebal setebal bikinan J.K Rowling pada saat itu. 
Akhirnya kutulislah cita-citaku "pembuat buku."

Lama dan menjadi kebiasaan pada akhirnya, aku suka sekali menulis di buku diary. Diary yang kupunya saat itu berwarna merah jambu, lengkap dengan gembok kecil di ujung penutupnya. Berharap tidak ada yang bisa baca tulisanku waktu itu. Malu rasanya jika tulisanku terbaca oleh orang lain termasuk ibuku sendiri. Saat itu, yang kutulis hanyalah curhatan sehari-hari anak SD yang sedang tumbuh remaja. 
Lambat laun, aku sadar jika aku suka menulis. Aku suka berlarut tenggelam dalam buku dan tulisanku sendiri. Membaca ulangnya pun membuatku bersemangat.

Sampai aku beranjak SMA, aku pun masuk dalam jurusan Bahasa dan Sastra. Pertanyaan terbesar dalam diriku bertahun-tahun lamanya sebelum aku memutuskan untuk masuk jurusan tersebut, aku bertanya pada diriku sendiri kenapa aku masuk kelas bahasa? Aku jawab, ya karena ingin menulis dengan baik, lalu, "Kenapa kamu ingin jadi penulis?"
Kini aku tahu semua jawabannya.

Aku adalah seorang introvert yang hanya akan pandai bertukar pesan teks tanpa ada panggilan telepon. Aku seseorang yang lebih memilih bercerita lewat tulisan dari pada lewat lisan. Aku tahu ini bukan hal yang begitu baik, tapi aku tahu kapasitasku. Aku hanya akan nyaman dengan tulisan saat aku benar-benar tak nyaman di dunia ini.

Mungkin untuk kedepannya, aku akan lebih melatih diriku untuk membuat lebih bagus lagi tulisan apapun yang aku buat. Menjadikannya bermanfaat bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain. Semoga juga aku lebih berani berkomunikasi dengan percaya diri dari tulisanku menjadi lisan yang akan bermanfaat untuk orang lain.
Salah satu manifestasiku adalah "Jadi Penulis dan Narasumber" nantinya.

Aamiin gak?

Sabtu, 08 Juni 2024

Daftar Sekolah Anak? Perhatikan Hal Ini


Tahun ajaran baru 2024/2025 sudah akan dimulai pada bulan Juli mendatang. Pastinya seluruh orang tua sudah bersiap memilih sekolah terbaik untuk putra-putrinya. Baik itu persiapan masuk KB, TK, SD, SMP, dan SMA maupun yang sedang persiapan untuk masuk ke jenjang universitas. Setiap tahunnya, banyak sekali calon siswa baru yang akan mendaftarkan ke sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri. Ada beberapa hal yang perlu orang tua pertimbangkan untuk memilih sekolah yang cocok dengan anak diantaranya adalah :

1. Akreditasi Sekolah

Akreditasi sekolah menjadi kesan pertama bagi orang tua yang akan mendaftarkan anaknya sekolah. Hal ini pula yang menjadi cerminan standart gambaran sekolah tersebut. Tidak ada salahnya untuk memilih sekolah yang sudah terakreditasi baik. Baik sekolah swasta maupun negeri, ada suatu bentuk akreditasi yang bisa dipertimbangkan untuk calon siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut.

2. Lingkungan dan Tenaga Pendidik

Lingkungan yang baik dan tenaga pendidik yang kompeten merupakan nilai plus yang dimiliki sekolah untuk menjadikan anak-anak berprestasi dan berakhlak mulia. Tidak melulu soal akademik, namun dalam hal norma dan agama lingkungan sangat mempengaruhi perilaku anak. Pada sekolah swasta maupun negeri tentunya ada standart masing-masing sekolah untuk memiliki tenaga pendidik yang mumpuni tidak hanya perihal akademik, namun cara berinteraksi dengan para murid perlu kalian perhatikan karena hal ini bisa menentukan apakah anak-anak akan betah di sekolah atau tidak.

3. Kebersihan

Lingkungan yang nyaman tentunya tidak luput dari kebersihan sekolah yang selalu terjaga. Fasilitas tidak perlu mewah yang penting bersih dan terawat saja sudah cukup mencerminkan bahwa ada perhatian khusus dari pihak sekolah kepada murid-murid yang diajar.

4. Kemampuan Finansial Masing-masing

Tidak perlu memaksakan untuk menyekolahkan anak di tempat yang mahal dan bergengsi. Kemampuan finansial orang tua pastinya akan berbeda sesuai dengan kebutuhan rumah tangga masing-masing. Sekolah mahal belum tentu lebih baik dari pada sekolah yang harganya di bawahnya. Yang terpenting yaitu kembali ke 3 poin di atas. Usahakan untuk memilih sekolah anak, masih bisa menyisihkan uang untuk hal lain yang juga menjadi kebutuhan si anak.


Jumat, 07 Juni 2024

Begini Cara Semesta Mewujudkan Pikiranmu


"Ah aku sial sekali."
"Bawaanku dari dulu memang begini-begini aja."
"Aduh, kepala ini kenapa setiap malam selalu kambuh sakitnya."
"Memang bener kata pepatah, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin."

STOP!

Kalau kamu pernah berpikir seperti itu, sebaiknya hentikan mulai sekarang!
Energi pikiran yang kamu fokuskan akan tertanam pada alam bawah sadarmu dan menjadi realita pada akhirnya.
Otak manusia diciptakan luar biasa hebatnya menerima segala informasi dan menyimpan informasi tersebut. Apabila otak kita beri makanan positif (dalam hal pikiran positif), dia akan menyalurkan energi positif ke seluruh tubuh kita dan akan mengubahnya menjadi dorongan energi positif pula, sehingga kita juga akan menarik energi-energi positif ke dalam hidup kita.
Sebaliknya, jika otak diisi dengan pikiran negatif, maka kita juga akan menarik hal-hal negatif ke dalam hidup kita.

Konsep Manifestasi
Manifestasi adalah salah satu kunci untuk mewujudkan semua keinginan kita menjadi kenyataan dengan cara Law of Attraction (LOA), termasuk saat kita berpikir negatif maka otak akan mengirimkan sinyal kepada kita untuk segera mewujudkannya, dan saat kita berpikir positif semua impianmu pun terwujud.
"Aku pernah manifestasi, tapi kenapa tidak terwujud?", "Kapan terwujudnya?".
Jika kamu pernah berpikir seperti ini, maka manifestasimu akan benar-benar tidak terwujud karena manifestasi atau do'a yang kita lepaskan ke langit biarkan dan pasrahkan semuany, biarkan alam semesta bekerja. Jadi percayalah 100% kepada Tuhan dan alam semesta untuk mewujudkan mimpimu. Kamu hanya perlu berpikir positif dan positif.

Lakukan hal ini, maka manifestasimu terwujud :

1. Scripting
Lakukan scripting atau menuliskan hal-hal yang kamu inginkan seakan-akan itu sudah terjadi. Contoh : "Terima Kasih Tuhan, akhirnya omset jualanku setiap hari semakin naik. 1.000pcs terjual tiap harinya."
Tuliskan juga hal-hal positif lainnya setiap hari di buku jurnal kamu. Setiap hari! Isinya berbeda-beda tidak apa-apa yang penting hanya hal positif yang ingin kamu wujudkan saja. Jangan menuliskan hal yang kamu eluhkan karena berpotenti mewujudkannya pula. 

2. Meditasi. 

Meditasi bukanlah hal yang mengarah ke "klenik" atau hal mistis yang ada dipikiranmu. Meditasi yang aku maksud adalah merilekskan pikiran dan memusatkannya pada hal-hal positif. Belajar memaafkan, belajar berterima kasih karena apa pun yang ada di dunia ini sangatlah berhubungan erat. Mungkin saja hari ini kamu kurang beruntung karena terlambat masuk kantor gara-gara ban bocor, tapi ternyata dibalik itu semua kamu dihindarkan dari kejadian tidak menyenangkan di jalan seperti kecelakaan atau semacamnya, masih lebih baik ban bocor bukan? Everything is connected dan kamu harus mempercayainya 100%.

3. Hilangkan Iri dan Dengki
Jika kamu masih mempunyai sifat iri dan dengki, jangan harap kamu bisa mewujudkan impianmu karena sifat iri dan dengki membuatmu sering mengumpat dan menjelekkan orang yang kamu tuju. Hal ini secara tidak langsung sama dengan mengutuk dirimu sendiri, menjelekkanmu sendiri dan membawa semua hal negatif itu ke dalam hidupmu.

Kamis, 06 Juni 2024

Jadi Pelajaran Dalam Rumah Tangga, Drama "Queen of Tears" Meraih Rating Tertinggi

Belum bisa move on dari serial drama Korea Queen of Tears yang tayang mulai Maret - Mei 2024 lalu. Drama Queen of Tears banyak sekali mengajarkan kita tentang kehidupan pernikahan dan keluarga. Queen of Tears menyajikannya dengan menarik dan membuat orang betah menunggu tiap episodenya keluar. Aku pun tak kalah kagum dengan aktor dan aktris pemeran utama Baek Hyun Woo dan Hong Hae In. Mereka membawakan peran masing-masing dengan sangat baik dan bisa membawa penonton untuk ikut merasakan apa yang sedang dirasakan para tokoh utama.

Menceritakan tentang kisah hidup rumah tangga Baek Hyun Woo dan Hong Hae In, membuat kita bisa belajar juga dari drama ini dalam konteks rumah tangga. Cerita kehidupan dan problematika yang ada di drama ini sangat realistis dan bisa saja terjadi kepada setiap pasangan menikah. Kira-kira beginilah beberapa pelajaran yang bisa aku ambil dari drama Queen of Tears dalam kehidupan sehari-hari kita :

1. Perbedaan Pola Asuh Mempengaruhi Kepribadian Anak
Baek Hyun Woo dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh perhatian. Dia tumbuh menjadi seseorang yang penuh percaya diri dan sangat baik dalam penyesuaian diri. Memiliki rasa empati dan berhati lembut serta selalu mengedepankan kebaikan dan kejujuran. Walaupun hidup di desa, orang tua Baek Hyun Woo memberikan cinta dan seluruh perhatiannya kepada anak-anak mereka. Tidak hanya di lingkungan rumah, orang tua Baek Hyun Woo juga memperhatikan pendidikan anaknya dengan menyekolahkannya di tempat terbaik yang mereka mampu. Alhasil, Baek Hyun Woo menjadi orang berpendidikan yang bermoral.
Sedangkan Hong Hae In, kebalikan dari Baek Hyun Woo. Walaupun dia memiliki previlage yang tinggi, menjadi ahli waris pasar raya dan bergelimang harta namun dia tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan acuh. Dia dibesarkan oleh ibu yang tidak pernah memperhatikannya dan selalu meremehkannya. Hong Hae In berhati lembut namun sulit untuk mengutarakan emosi dan perasaannya.

2. Diam Tidak Selamanya Emas
Ada cerita di mana Baek Hyun Woo dan Hong Hae In melalu fase silent treatment. Hal ini justru makin memicu asumsi-asumsi berbeda dari kedua belah pihak. Akibatnya, jika tidak dikomunikasikan dengan baik akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja. Masalah bertumpuk dan tidak pernah diselesaikan atau dibicarakan.

3. Komunikasi itu Penting!
Aku rasa alur cerita yang menimbulkan permasalahan pada drama Queen of Tears ini berawal dari komunikasi yang buruk. Baik itu Baek Hyun Woo dan Hong Hae In sebagai pasangan suami istri, maupun Hong Hae In dengan keluarganya. Komunikasi yang tidak tuntas dan menimbulkan persepsi individu menjadi rancu menyebabkan permasalahan yang berlarut-larut.

4. Stop Berasumsi!

Kalau kalian orang yang suka menebak-nebak perasaan dan pikiran orang lain atau pun pasangan kalian, stop melakukannya! Hal itu akan membuat kalian stres dan tidak pula tepat sasaran dalam menafsirkannya. Ada baiknya kalian mengobrol langsung dengan orang tersebut, alih-alih hanya berasumsi tentangnya. Hal ini terjadi pula pada Hong Hae In dan Baek Hyun Woo di drama Queen of Tears. Masalah terus timbul saat mereka salimg berasumsi dan mengira-ngira sendiri. Speak up please!







Rabu, 05 Juni 2024

Suka Drama Queen of Tears? Pasti Juga Suka 3 Drama Ini!

 Suka Drama Queen of Tears? Pasti Juga Suka 3 Drama Ini!


Drama Korea yang mengisahkan tentang pasangan Hong Hae In dan Baek Hyun Woo membuat para fans Kim Soo Hyun dan Kim Ji Won rela menunggu tiap sabtu minggu hanya untuk menantikan konflik baru yang disuguhkan dalam drama tersebut.

Drama ini bercerita tentang sepasang suami istri yang sedang memiliki konflik internal dalam diri masing-masing. Hong Hae In sebagai direktur di pasaraya sementara suaminya, Baek Hyun Woo menjadi kuasa hukumnya. Bekerja bersama dalam satu perusahaan tak membuat keduanya menjadi pasangan ideal yang romantis, justru keduanya sering terlibat perdebatan hingga akhirnya sama-sama saling menjauh. Tapi dengan beberapa musibah dan kejadian, membuat mereka berdua sadar jika keduanya saling mencintai, namun kurangnya komunikasi menjadikan mereka saling berasumsi dan ujung-ujungnya jadi berdebat lagi.

        Sumber: Wikipedia

Queen of Tears memberikan tangis dan tawa penonton di setiap episodenya itulah sebabnya Queen of Tears masuk dalam kategori romcom. Pemeran yang bertabur bintang dalam serial ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi penonton. Selain Kim Soo Hyun dan Kim Ji Won, ada Park Sung Hoon yang berperan sebagai tokoh antagonis berperan sebagai Yoon Eun Seong. Aktris dan aktor senior seperti Na Young Hee dan Kim Kap Soo serta Jung Jin Young juga beradu akting dalam serial ini. Walaupun alur cerita terkesan tidak asing seperti dalam drama yang sebelumnya pernah tayang di tvN, Queen of Tears dapat memecahkan rekor baru tvN dengan rating tertinggi pada episode 16 yaitu 24,8%.

Bagi kalian yang telah menonton Queen of Tears, kalian juga pasti akan menyukai beberapa drama berikut:


Go Back Couple

     Sumber : kompas

Bercerita tentang sepasang suami istri Choi Ban Do dan Ma Min Jo yang sama lelahnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka menikah di usia 24 tahun, kini telah menjalani pernikahan selama 10 tahun lebih dan telah memiliki seorang anak balita. Choi Ban Do adalah seorang sales obat-obatan yang loyal kepada perusahaan. Sedangkan Ma Min Jo adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya mengurus rumah dan anaknya saja. Choi Ban Do mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya dan merasa hidupnya sangat membosankan, begitu pula Ma Min Jo yang setiap hari berkutat dengan rumah dan anak serta merasa kurang diperhatikan oleh suaminya. Keduanya ingin berpisah namun mereka terlempar kembali ke masa lalu sebelum mereka bertemu. Kejadian itu membuat mereka mengalami hal-hal baru yang dulu tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, dan merubah beberapa alur cerita untuk menentukan masa depan mereka masing-masing. Pada akhirnya membuat mereka berpikir bahwa sebenarnya mereka saling mencintai walaupun kehidupan lamanya terulang kembali. 

Drama ini cocok untuk kalian yang merasa lelah dan penat dalam hubungan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari drama korea satu ini terutama tentang hubungan dengan pasangan dan keluarga.


Hi, Bye Mama!

    Sumber : sonora.id

Drama Korea satu ini dibubuhi dengan banyak aksi komedi menarik di dalamnya. Walaupun banyak juga cerita yang akan membuat penonton menangis, alur cerita yang ringan membuat penonton tidak terlalu banyak berpikir dan cocok untuk tontonan keluarga. 

Menceritakan tentang Cha Yuri, seorang ibu hamil yang telah meninggal dan diberi kesempatan oleh Dewa untuk hidup kembali. Dia rela mati demi menyelamatkan anaknya dan kini dia diberikan kesempatan hidup hanya 49 hari untuk melihat keadaan anaknya di dunia. Cha Yuri akan benar-benar hidup kembali jika dia berhasil mengambil kembali kehidupannya yang sama persis seperti saat dia masih hidup termasuk suaminya, Cho Gang Hwa. Namun Cho Gang Hwa telah menikahi wanita Oh Min Jeong, yang berarti ini adalah tantangan untuk Cha Yuri menentukan apakah dia akan benar-benar hidup kembali atau hanya 49 hari saja. 

Hi, Bye Mama mampu menyajikan komedi di setiap episodenya sekaligus membuat penonton menangis tersedu karena beberapa cerita tentang ibu dan anak yang mengharukan. 


Reply 1988

     Sumber : wikipedia

Drama komedi romantis yang rilis pada tahun 2015 ini masih sangat cocok ditonton berkali-kali. Cerita berlatar tahun 1980-an yang mengangkat tentang fenomena kehidupan sehari-hari pemainnya membuat drakor ini terkesan ringan dan mudah dipahami karena relate dengan kehidupan nyata. 

Menyoroti kisah tentang keluarga, persahabatan, cinta, dan kehidupan yang relate dengan kenyataan. Drama Korea REPLY 1988 membuat dua karakter utamanya mengalami cinta lokasi yakni Hyeri dan Ryu Jun Yeol. Namun, setelah berpacaran cukup lama sejak bertemu di drama ini, kabar terbarunya keduanya baru saja putus.

Drama ini akan berkesan bagi yang menontonnya karena banyak nila-nilai kehidupan yang akan menjadi relate dengan kehidupan nyata. Dibumbui dengan kisah cinta monyet hingga akhir yang bikin baper, drakor ini mendapat rating tertinggi pada saat penayangannya berlangsung.

Beberapa drama korea diatas adalah drama komedi romantis yang ringan dan mengharukan yang cocok untuk ditonton bersama pasangan atau keluarga. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari drama-drama tersebut terutama untuk para pasangan dan keluarga yaitu komunikasi dan keterbukaannya.




Selasa, 04 Juni 2024

Gerutu Hari Ini

Kalian tahu apa yang lebih menjengkelkan dari melewati hari-hari tidak menyenangkan menurut versimu? Saya terlalu terbawa suasana saat melewati hari-hari bahagia. Saya terlena saat bahagia menghampiri dengan segala kenikmatannya. Tak seharusnya saya begitu. Mengingat ada pelangi setelah badai, pun ada badai dibalik ombak yang tenang.

Saya akui, saya haus akan ilmu tentang memahami individu. Tapi kenapa selama ini saya sering kehilangan diri sendiri? Teringat seseorang yang dulu begitu memahami cara pikirku. Bertukar cerita dan pikiran seolah seisi dunia akan kita bahas bersama. Naif memang waktu itu. Mempercayai semua cerita saya kepada dia yang entah saat ini sempat membaca blog saya atau tidak. Hey, untuk kamu yang merasa, boleh komen dong kalau kamu mengerti maksud saya(?) Haha

Saya masih bertanya-tanya tentang kalimat "Serahkan semua ke Tuhan." Saya bingung pertanda yang Tuhan beri ke saya apa sudah tersampaikan dengan benar? Dan apakah saya sudah sadar betul itu adalah pertanda dari Tuhan? 
Apa ini yang saya jalani sekarang adalah do'a-do'a saya yang dulu pernah saya bilang, "Terserah Tuhan?"

Ah terlalu rumit ya saya memikirkannya?

Terkadang memang hal-hal yang diluar kendali kita tidak perlu terlalu dipusingkan. Teringat tulisan saya tentang stoikisme kemarin. Lega juga saya menjabarkannya kemarin. Namun di sisi lain, memang tidak ada manusia sempurna, yang ada hanyalah saya yang berusaha mempelajari maksud dan tujuan dari hidup saya. Setelah banyak hal yang saya lewati, menjadikan semua itu pelajaran yang sangat berharga bagi saya saat ini.

Pelajaran yang saya simpulkan untuk hari ini adalah tidak semua hari kau perlu merasa paling sial sedunia. Semua orang pasti merasakannya tapi tidak harus ditunjukkan.
Kini saya merasa menjadi orang paling abstrak sedunia karena berceloteh tentang perasaan hari ini yang memang abstrak.

Sekian mungkin untuk hari ini.

Besok saya akan bercerita tentang manisfestasi. Ada yang tahu tidak manifestasi menurut versi kalian apa sih?
Kalian percaya manifestasi tidak?

Semoga ada kekuatan untuk menuliskannya di esok hari.

Salam sehat mental.

Xoxo


Senin, 03 Juni 2024

Stoikisme, Tidak Serta-merta Membuat Kita Nampak "Bodo Amat"

Cuaca hari ini benar-benar buruk, hujan turun dengan angin besar dan petir menggelegar yang membuat rencana bepergianmu batal; kamu hendak mengumpat menganjingbabikan semesta, tetapi kamu tidak jadi melakukannya. Alih-alih, kamu hanya diam, menyeduh secangkir teh hangat dan mengambil sepiring cookies, mengambil buku favoritmu, mengambil selimut, kemudian duduk di sofa dan menikmati hari untuk menggantikan perjalananmu yang batal dan berpikir bahwa selalu ada hari esok untuk itu.

Tetapi, kemudian, kamu mendengar suara tetesan air yang terdengar keras di belakangmu. Kamu terkejut saat menemukan atapmu berlubang yang menciptakan celah untuk air masuk ke dalam ruangan, dan itu tepat di atas meja komputermu. Kamu mencari sesuatu untuk menampungnya, sembari berpikir, "Bagaimana jika aku pergi sebelum hujan, itu mestilah sangat buruk, air akan mengenai komputerku dan membuatnya rusak, aku bersyukur tidak melakukannya."

Setelah selesai, kamu kembali ke sofamu dan melanjutkan bacaanmu. Dan, ketika selesai, kamu tertidur dengan perasaan tenang.

Kamu terbangun ketika hujan sudah selesai, hari sudah gelap. Kamu membersihkan wadah tampungan air dan segera berpikir untuk memanggil tukang untuk memperbaikinya besok.

Kamu membuka ponsel, menyalakan jaringan, dan kamu langsung disambut dengan pesan beruntun dari temanmu yang memberikan tautan tentang orang asing yang menghina negaramu. Kamu membukanya, dan seketika merasa kesal, karenanya, kamu menulis kalimat panjang untuk menghina kembali sebagai balasan di laman komentar. Tetapi, ketika kamu hendak menekan tombol kirim, kamu teringat untuk apa kamu membuka ponsel.

Kamu menghapusnya, keluar dari tautan tanpa meninggalkan jejak apa-apa, kemudian segera mengirimkan pesan kepada tukang memintanya untuk datang dan memperbaiki atap bocor di ruanganmu.

Itu bagus, pikirmu, kamu tidak akan menorehkan satu lagi jejak buruk digital yang akan kamu sesali di kemudian hari.

Kamu kemudian mandi dan berniat untuk membuat makan malam, menyadari bahwa kamu kekurangan bahan makanan karena sebelumnya kamu berniat untuk bepergian. Kamu segera bergegas untuk pergi ke swalayan, membeli beberapa sayuran dan makanan instan, kemudian pergi menuju antrian.

Sayang sekali, ketika hendak melakukannya, kamu bertabrakan dengan seseorang yang membawa minuman, minumannya tumpah dan mengenai dirimu. Orang itu mengumpat, mengatakan maaf dengan cepat dan bergegas meninggalkanmu menuju pintu keluar.

Kamu ingin mengumpat, tetapi orang itu sudah pergi dan ada beberapa anak di sekitarmu, mereka bisa mendengar dan menirumu. Kamu tidak jadi melakukannya.

Ketika kamu keluar dari swalayan, kamu menemukan orang itu berdiri di samping pintu keluar. Dia menyodorkanmu segelas minuman hangat dan mengatakan bahwa ia sedang terburu-buru. Kali ini ia meminta maaf dengan benar.

Kamu tersenyum dan mengatakan itu bukan masalah, bersyukur tidak jadi mengumpat saat berada di dalam.

Kamu pulang, membersihkan diri lagi, memasak makan malammu, makan dengan tenang, mendengarkan lagu kesukaanmu, membaca lagi, dan bergegas menuju ranjang dan berharap dapat tidur dua jam sebelum tengah malam.

Hari ini banyak kesialan, pikirmu. Kamu segera membuka ponselmu dan berniat untuk menjadikannya sebagai bahan cerita untuk dibagikan kepada para pengikutmu. Tetapi, kemudian, kamu berpikir; jika kamu melakukannya, maka ada kemungkinan seseorang akan membalasnya, dan kamu harus membalasnya pula, dan kalian akan saling berbalas-balasan sehingga kamu akan lupa waktu. Tidurmu akan terlambat yang akan membuatmu bangun terlambat pula. Badanmu akan sakit.

Kamu tidak jadi melakukannya. Kamu lantas menutup ponsel dan mulai mencari posisi nyaman untuk tidur.

Berharap besok kamu akan tetap bisa mengendalikan dirimu untuk tidak melakukan hal yang akan membuatmu menyesal di esok hari.

Saya yakin kamu sering menemukan esai atau cerita yang mirip dengan fragmen di atas ketika berbicara tentang stoik. Itu adalah catatan lama saya, omong-omong, saya buat dengan pertanyaan awal yang kurang lebih meminta saya untuk menuliskan "kemustahilan di dunia nyata."

Wqwqwq.

Saya baru beberapa bulan ini menemukan stoikisme omong-omong, dan seketika jatuh cinta padanya sampai pada titik di mana gelar kaisar Romawi favorit saya sekonyong-konyong langsung bergeser dari Augustus menuju Marcus Aurelius :D

Aliran ini benar-benar tampak sempurna di mata saya. Term-term seperti dikotomi kendali, aproptosia, anelenxia, aneikaiotes, amataiotes, view from above, premeditatio malorum, amor fati, dan prinsip-prinsip dasar stoa lainnya benar-benar meracuni otak saya.

Apa yang tidak saya pahami adalah fakta bahwa saya bukan orang yang cerdas. Saya tidak mampu menafsirkan segala hal dengan benar. Termasuk stoikisme ini.

Dikotomi kendali, misalnya. Alih-alih memaknainya sebagai sebuah cara pandang untuk mengendalikan diri sendiri, saya malah memaknainya sebagai cara lain untuk bersikap apatis dan ignoran terhadap segala hal.

Saya juga menulis daftar untuk memastikan dikotomi kendali saya tetap berjalan dengan baik, omong-omong, ini dia:

Hal-hal yang bisa kamu kendalikan:

1. Pikiranmu

2. Tindakanmu

3. Perkataanmu

4. Caramu mengungkapkan pendapatmu

5. Caramu mengelola barang milikmu

6. Caramu menyayangi dirimu

7. Batasanmu

Hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan:

1. Perkataan orang lain

2. Perasaan orang lain

3. Apa yang orang lain pikirkan

4. Apa yang orang lain katakan

5. Waktu, cuaca, suhu, kondisi alam di suatu tempat

6. Hal-hal yang telah terjadi

Dengan berpatokan pada daftar ini, bukannya menjadi manusia tenang, saya malah nampak seperti manusia yang terlalu bodo amatan. Saya tidak peduli pada kematian orang lain, saya tidak bisa berempati pada perasaan orang lain, saya bahkan menganggap semua pendapat orang lain tidak penting.

Stoikisme tiba-tiba berubah menjadi solipsisme. Saya seketika berubah menjadi manusia paling bajingan di seantero alam semesta. Analoginya.

Efek jangka panjang dari ignoran berkedok dikotomi kendali ini sendiri jauh lebih mengerikan.

Saya kolaps.

Semua emosi yang selama bertahun-tahun saya pendam atas nama pengendalian diri, segala kenegatifan yang saya telan diam-diam tanpa sedikitpun memiliki jalur pengeluaran, setiap masalah yang saya abaikan karena merasa itu bukan masalah; pada akhirnya meledak.

Saya marah tanpa bisa saya kendalikan, ada chaos dalam diri yang tak bisa saya netralkan. Ironis sekali, daftar pertama pada hal yang harus saya kendalikan justru menjadi hal yang mulai mengendalikan saya.

Meskipun kejadian pada diri saya adalah kesalahan saya sendiri atas penafsiran yang tidak tepat, tetapi pada akhirnya saya menemukan satu kekurangan stoikisme; dia tidak tercipta untuk saya.

Stoikisme memang tidak memiliki kekurangan dalam ide-idenya. Dia sempurna, tanpa cela. Namun, terlalu sempurna untuk manusia yang tidak akan bisa sempurna.

Kita melupakan bahwa manusia penuh luka, bisa mengalami trauma, dan tidak semuanya memiliki isi kepala.

Stoikisme tidak bisa diterapkan secara universal, sebab ia mengabaikan hakikat dasar manusia sebagai makhluk yang memiliki kepekaan rasa (homo recent), yang kadang-kadang, kepekaan rasa ini bertindak lebih cepat sebelum otak memikirkan apa-apa.

Manusia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan dunia di luar dirinya, sebab di sanalah mereka hidup. Kita terbentuk dari hubungan antar diri dan objek internal, that's what makes us us.

Meskipun para stoik berdalih bahwa stoikisme tidak sepenuhnya menolak adanya emosi, tetapi mereka cenderung menyebut mengekspresikan emosi adalah tindakan bodoh dan menyakiti diri sendiri. Utamanya adalah marah.

Welp, it does.

Akan tetapi, apakah semua orang bisa untuk tetap tidak marah? Apakah marah memang selalu berakibat negatif? Bagaimana jika kemarahan bisa memberi efek jera yang menyadarkan orang yang kita marahi bahwa ia telah berbuat kesalahan dan mau berubah menjadi lebih baik?

Artinya, relasi antar manusia-emosinya-subjek lain itu terlalu kompleks. Adalah tindakan ceroboh jika mengasumsikan suatu tindakan hanya bisa berakhir pada satu kondisi.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan kepada para stoik: manusia tidak hanya terpusat pada isi kepala. Kita punya hormon, alam bawah sadar, dan perasaan yang kadang-kadang mempengaruhi tindakan kita.

Manusia pada cerita pertama mungkin saja ada, tetapi saya yakin jumlahnya tidak lebih banyak dari jumlah semua kue coklat yang pernah dibuat di seluruh dunia.

Jadi, tolonglah, jadi sedikit lebih realistis:)

Kesimpulannya, apa kekurangan stoikisme?

Hanya ada dua yang utama. Pertama, cenderung disalahtafsirkan. Apalagi hanya dibaca sepotong-sepotong dari kutipan para stoik di internet. Kedua, tidak praktis. Sulit sekali diterapkan.

Tidak semua orang bisa lepas dari PTSD, tidak semua orang bisa lepas dari perasaan-perasaannya.

Hanya orang yang mengisolasi dirilah yang sepenuhnya tidak terpengaruh dari dunia luarnya.

Terakhir, memeeeeeee. Bagaimana mungkin kita bisa melupakan ini😔👊

Stigma:

 

Realita:

 

Welp, itu saja.

Terima kasih sudah membaca🌼

Dari Limbah Jadi Mainan Anak: Solusi Edukasi dan Lingkungan dalam Satu Sentuhan

     Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur adalah salah satu penghasil mebel terbesar di Jawa Timur. Tidak kalah dengan kota Jepara, mebel di Kot...